Jumat, 07 Oktober 2011

Sandal Jepit, Terhimpit

sebuah sandal jepit
hanya sebelah dan terhimpit
di anak tangga sebuah masjid
tak lagi berwarna bahkan karetnya pun mulai irit

dulu dia berwarna biru
menggantung rapi di dalam warung yang dijaga seorang ibu
lalu kakek tua menebusnya dengan uang lima ribu
tapi itu dulu, sekian minggu bahkan mungkin bulan yang telah lalu

berhari jepit itu menemani
lelaki tua datang dan pergi
lima kali dalam sehari
dari rumahnya untuk menuju ke Masjid ini

lantas di hari yang tiba-tiba hujan
tanpa mendung sebagai pemberitahuan
kakek tua itu hendak menyebrang jalan
berlari, dia enggan hujan membuat gigil di badan
berbarengan sebuah sedan
melesat laju melanggarnya hingga nyawa terlepas, bahkan sang kakek lupa ucapkan selamat jalan
pada nyawa yang terus melayang naik diantar malaikat menghadap Tuhan

dan sandal jepit itu terlepas
entah mengapa yang satu begitu jauh terhempas
hingga di ujung anak tangga pas dekat teras
terhimpit, terlupa, menunggu sang empunya dan kembali bebas
walau sandal jepit, dia pernah punya bakti tanpa harap dapat balas

Senin, 26 September 2011

Salah, Jatuh Cinta

aku jatuh
di kerling matamu
yang coklat dan teduh
tanpa sadar, rona memerah, tersirat di pipi yang tersipu

kau ulurkan tangan
dadaku letup karena harapan
adakah kau sang pria tampan
yang berkendara turangga, mewujud nyata, bukan lagi impian

namun hujan luruh
gumpalan mendung menjadi partitur gemuruh
menghentak, menghela, mengancam menghujam, bagai tanya pada tertuduh
bukan, bukan dia kepada siapa dada letup itu melabuh

melajulah ke negeri impian
angkat sauhmu dan biarkan layar terkembang
lalu, kini, nanti, yang terharap dalam angan
kenang, simpan rapat-rapat dalam kenang

Senin, 12 September 2011

kembali, semoga fitri

tentang waktu
yang kita buru dan terburu
dari sudut ke sudut, merah, legam, membiru
di antara desah, hela, peluh, kadang terkecap kelu

tak hendakkah henti
sejenak,tenangkan diri
korek, sikat, mandikan hati
agar bersih, putih, moga kembali suci

dan kerlip bintang pendar
iring bulan muda, merayap, pancarkan sinar
moga kelam tak halangi terang, untuk tersadar
laku cela, nista, kalah dan salah, tergelar
tangkupkan telapak, untuk pintu maaf, duli tuan, terbuka lebar

Minggu, 26 Juni 2011

Tentang Debar

cintaku bukan hanya kata sekadar
saat aku diam kamu jangan gusar
diamku adalah pendar
cahaya terang yang bagimu hanya samar
ning, buka hatimu lebar-lebar
walau telat cintaku akan datang, sabar
percayalah, nanti suatu hari, lamanya pertemuan akan hambar
kita juga akan berebut benar
tak cukupkah kita hanya berharap saling bertatap binar?
sering kita tahu keinginan kita hanya berujung pada hati yang memar
ning, cinta itu seperti rumput-rumput liar
kadang tak berguna berwarna hambar
saat kering juga mudah terbakar
tapi dia tidak pernah lari dari matahari yang membakar
itu jika kamu sepakat, hidup hampir selalu tentang debar

Bandung, jalan Mangga, 14 Desember 2010,  walau tak selalu tentang debar

Kamis, 23 Juni 2011

Bukan Yang Terakhir



berjanjilah apa yang selesai hari ini bukan akhir
juga apa-apa yang tidak selesai hari ini bukan sempitnya fikir
ini tentang bagaimana ber-dzikir
juga apa-apa yang seterusnya lahir adalah kesadaran yang membanjir
berjanjilah jika kemudian fikiran kosong lihatlah isi cangkir
kemudian seduhlah waktu dalam kesadaran air


Bandung, 26 oktober 2010, ketika kabar baikmu membuatku sehat

Senin, 20 Juni 2011

Refleksi

ku rasa cantik hari ini
dengan putih menutup diri

ku rasa cantik hari ini
dengan balutan rasa & sensasi

ku rasa cantik hari ini
tapi cantik jugakah hati?

Senin, 13 Juni 2011

Perjanjian Pulang

pulang dan kesendirian bukan paksaan,
bukan tentang apa-apa yang diinginkan,
juga bukan tentang penantian dan kepergian,
pulang dan kesendirian adalah perjanjian,
tiada yang bisa selamat dari pulang dan kesendirian,
dua hal yang merangkum segala keselamatan.

*Sukaluyu, 30 mei 2011

Kamis, 09 Juni 2011

Angan Tinggal Kenang


kukecup ragamu
dalam alunan lagu
tentang rindu
nanti, kini, dulu

aroma cinta
mengangkasa
lantas mega-mega
bentuk wajahmu disana

lantas hujan luruh
kupikir kau datang dan melabuh
oh tidak, ternyata kau pergi, menjauh
kukejar hingga jatuh
jua, kau tiada tersentuh

rinai kini henti
sapukan lengkung pelangi
nyata ku lihat kau berdiri
seorang bidadari, membawamu pergi
tentang rindu
nanti, kini, dulu

aroma cinta
mengangkasa
lantas mega-mega
bentuk wajahmu disana

lantas hujan luruh
kupikir kau datang dan melabuh
oh tidak, ternyata kau pergi, menjauh
kukejar hingga jatuh
jua, kau tiada tersentuh

rinai kini henti
sapukan lengkung pelangi
nyata ku lihat kau berdiri
seorang bidadari, membawamu pergi

Usai yang Masai

adzan maghrib baru saja gema
gaungnya dari stasiun tugu hingga titik nol, entah dimana

ada senyap yang singgah
terseret, terbakar gundah

aku tunggu
itu katamu

padamu hatiku berlabuh
hendaknya hatimu, dipelukku, buang sauh

malioboro semakin ramai
kendara yang lalang, acuhkan rinai
namun bayangmu tak jua sampai
sebuah janji, sirna dalam lalai
dan kisah kita, usai dalam masai


Hujan, Luruhkanlah

hujan curah
aku tengadah
tunggu berkah
jiwa lelah
asa, hampir punah

cucuran kesah jadi ngarai
mendelta, harap usai
namun raga, makin masai
umpatan, dzikiran, cerai berai

duhai gusti
jentiklah hati
lantas cuci bersih, pikir, diri
tiba-tiba hujan henti
sialan, hatiku belum lagi suci

Selasa, 07 Juni 2011

Sendiri, Kesendirian dan Menyendiri

pernah suatu ketika sendiri adalah keniscayaan
sendiri yang berujung pada penciptaan
Dia yang sendiri, yang tak terbayangkan
benarkah mencipta untuk seorang teman?

dan kesendirian tidak pernah diinginkan
namun tiba-tiba ada dan berkelindan
adakah kesendirian dimaksudkan?
agar kita tahu Dia selalu sendirian?

selanjutnya malam-malam memanggil untuk menyendiri
meresapi sunyi, menyaring sepi
dan siang-siang juga memanggil untuk menyendiri
meniup bising keluar dari hati

Hanya diriMu yang sanggup sendiri

Bandung, 5 Juli 2010, an i .. disela-sela adzan di sebuah siang

Senin, 06 Juni 2011

Kado Sprei

ada dua puluh kado sprei untuk pasangan yang berbahagia hari ini
pasangan ini memandangi sprei warna-warni
sambil membayangkan setiap hari akan ganti sprei
sang istri berfikir capeknya mencuci
sang suami berfikir tidak usah repot membeli
namun keduanya bertanya dalam hati
“apakah urusan menikah hanya urusan tempat tidur sehingga kado harus sprei?”
hingga keduanya menatap satu kado cangkir warna-warni
saling tersenyum dan bersiap minum kopi di atas sprei

*Ponorogo, 29 Juni 2010, kado 'i' .. ;)

Sabtu, 04 Juni 2011

Anyelir

Anyelir indah dalam bingkai di dinding muram
dalam remang kuning yang membuatnya selalu senja
disini aku memilih diam
dalam ruang berdinding kata
yang kau bangun setiap malam
dan semua kata … cinta

*Ponorogo, 29 Juni 2010, bergantian ..

Minggu, 29 Mei 2011

Berakhirnya Rindu

pernah suatu ketika kita membayangkan berakhirnya rindu
apakah akan senang atau malah sendu
rindu seperti bermain dadu
melayangkan imajinasi menjadikannya candu
membayangkan saat bertemu yang syahdu
atau saling tersenyum dan tersedu-sedu
seolah menemukan muara telaga luas untuk mengadu
atau menikmati riak hasrat yang berpagut berpadu
semua bayangan pertemuan semanis madu
dan saat pertemuan ini, yang kita kira berakhirnya rindu
kita butuh tandu
untuk lelah kesendirian yang beradu
dan di saat berakhirnya rindu, sekali lagi kita butuh rindu untuk memandu

*bandung, 21 januari 2011, du du du du ..

Jumat, 27 Mei 2011

Penanda Semu

sepertinya menjadi rumit dalam hatimu
kala ruang demi ruang seperti terhalang bertemu
kala layang-layang tak terbang terhalang eternit langit-langit semu
juga kala kata-kata menjadi jerat saat diramu

tapi sepertinya menjadi sederhana dalam hatimu
kala kursi tua terpilih menemani ‘tuk menanti tanpa jemu
kala benang layang-layang terikat menjadi penanda musim yang semu
juga kala tak berkata-kata adalah hal mudah yang sulit diramu

*Bandung, 23 maret 2011, Mu ...

Kamis, 26 Mei 2011

Genting

tak sanggup aku menghitung genting
buat apa juga, jika jumlahnya satu tak akan jadi barang penting
tapi jika hilang satu saat hujan akan membuat pontang panting

tak sanggup aku mengingat pertemuan kita yang sering
terkadang, dari jutaan ingatan hanya beberapa yang teringat nyaring
dan beberapa ingatan itu adalah saat kau jauh dan aku mengering

*mangga, 02-02-2011, serba 2 yang ting dan ring ..

Rabu, 25 Mei 2011

Montage

kantukku hilang saat kabar tentang senyummu datang
padahal hanya kabar, bukan di depan mata terkembang
tapi terbayang
melihat senyummu seperti pulang

ya sudahlah anggap saja akhirnya aku jatuh cinta
hanya sekedar berita, senyummu sudah terhampar di depan mata
ya, aku jatuh cinta, tapi tidak ingin lama-lama
setidaknya sampai nanti kantukku tiba, cukup sepertinya

*Kilasan, bandung 27 desember 2010 ... Ang .. ta .. a

Senin, 09 Mei 2011

Diam Yang Kau Cemburui

menjadi hal wajar jika kemudian kamu marah padaku
karena aku hanya diam saat rindu
tapi sungguh rindu ini membuatku terpaku
walau pundak berat beban tertandu
dan maaf jika kemudian aku suka membuatmu marah
tersenyum mendengarkanmu melenting-lentingkan suara membuat gerah
aku hanya menggoda berharap pada gairah
yang membuat jiwa dan ragaku berwarna merah
aku tahu ini tentang diam yang kau cemburui
sepertinya dimatamu aku lebih suka sendiri
tapi coba tengok pada dahan dan ranting
pohon dan kebun basah semua oleh rinduku yang pening

*bandung, 8 maret 2011, warna-warna diam ..

Kamis, 28 April 2011

Beberapa Kedipan

kisah-kisah tentangmu bukan tentang bunga
tentang hari-hari sedih dan luka yang menganga
juga tentang air mata penuh sebelanga

sementara kisahku adalah kisah utopia menjadi perkasa
ketika diri lebih suka berdiam tenggelam dalam haru biru rasa
lemah, bersimpuh, terpasung, tersiksa

kau dan aku bertemu menjadi sebuah kisah
tentang pertemuan airmata yang membuat hati kering menjadi basah
berpagut dalam rindu namun terpasung dalam resah

ribuan waktu tanpa senyuman
ribuan pelukan tanpa nyaman
ribuan hasrat tanpa ciuman

kita bersandar pada beberapa kedipan
tak berusaha membuat semua rasa menjadi mapan
hanya sekedar sadar, kosong diantara kita adalah harapan

*nga, sa, sah, man dan pan ..hmmm

Minggu, 17 April 2011

Pengalihan-pengalihan

aku sudah membuat pengalihan-pengalihan
atas pendar-pendar dan denting rasa yang tak berkesudahan
yang kudapat hanya kegelisahan
kegundahan

aku sudah membuat pengalihan-pengalihan
atas pendar-pendar dan dentingmu yang bertuliskan keindahan
yang kudapat hanya keresahan
kejengahan

dan kini, aku janji tak membuat pengalihan-pengalihan
atas pendar-pendar dan dentingmu yang tak berkesudahan
yang kudapat adalah penyerahan
kepasrahan

*Sukaluyu, 12 Maret 2010, sebuah 'Han' .. gradasi rasa

Jumat, 08 April 2011

Zombie

sejauh kakimu melangkah
sejauh tanganmu menjamah
sejauh matamu perih memerah
sejauh itu hatimu membantah

hatimu menjauhi jiwa dan ragamu
juga pikiranmu penuh badai ilmu

hatimu tersesat jauh
padahal jiwamu sudah melempar sauh
ragamu juga sudah berpeluh
pikiranmu tersisa separuh

hatimu sudah tumbuh sendiri
dan lebih senang bermain duri

sementara senja sudah beranak badai
hatimu masih membantah dan berandai
mengira mimpi belum usai
dalam kesendirian semu damai

di sini, jiwa raga dan pikiranmu berteduh di bawah pohon jati
di atas daun-daun kering yang bertumpuk mati
menerawang kosong jejak langkah sapi penarik pedati
berharap ada kiriman yang baru, sebuah hati sejati

*Bandung, 10 Desember 2011, merasa mati

Sabtu, 02 April 2011

Pojok Stasiun

pernah sebagian pojok stasiun ini milik kita
tidak lama, hanya beberapa menit saja
pojok itu, saat itu adalah milik kita
kita punya ingatannya, orang lain tidak, ku rasa

pojok itu ingatan kita tentang tawa
menghirupnya dalam hati dan melekatkan pada jiwa
tidak banyak memang tapi ingatan membentuknya menjadi rawa-rawa
kelak akan kita susuri sambil mendayung waktu dihangat khatulistiwa

tadi pagi pojok stasiun ini dimiliki orang lain
namun ingatan itu meniup-niup seperti angin
mengelus ingatan dan menindih batin
ah .. kamu sudah begitu jauh dengan ingatan yang dingin

*Bandung, 17 Desember 2010, semula memikirkan Stasiun (un) tapi tertarik pada jatuhan rupa-rupa a, wa dan in ..

Jumat, 01 April 2011

Bisik Musik

Musik malam ini mengusik
ada banyak bunyi berbisik
membuat kesadaran bangun menelisik
pada sesuatu yang gemerisik
ah, rupanya rindu mulai bersisik

Bandung, 10 Februari 2010 .. 'sik' yang tak asik

Kamis, 31 Maret 2011

Balada Kembang Tebu

kita pernah bermain-main dengan kembang tebu
kala itu kemarau sangat berdebu
dan kebersamaan kita melupakan pangkuan ibu
juga batasan batasan yang kelak kita kenal sebagai tabu

kita juga pernah berkejaran di sepanjang rel lori
saat itu kita ingin pergi ke pasar malam musim giling yang berseri
di sana kita bisa dengan enak menunjuk kesenangan dengan jari
sebuah perayaan akan hadirnya manis gula dari dewi sri

pernah, adalah kata yang ganjil menggelayuti hati
ingin kembali menyusuri masa rasa manis tanpa henti
hanya tidur yang membuat jarak antara manis dan arti
ya kita pernah mengalami manis tanpa harus menanti

kembang tebu ini masih ada meliuk-liuk menggoda
ingatan tentang kita menjadi sesak di dada
dipunggung kita berkilo gula berkilau namun berat bagai gada
turunkan harga!! Teriak manusia muda usia sumbang tanpa nada

gula-gula itu masa kecil indah manis
lori, kembang tebu dan pasar malam gembira tak pernah habis
musim giling masa lalu sudah berakhir dengan tangis
dan sekarang hanya menjadi balada yang tragis dan ironis

*Sukaluyu, 30 Desember 2010. melihat bu, ri, ti, da kemudian is .. is finish

Selasa, 29 Maret 2011

Sedu Sedan Zaman Edan

Rombongan terhormat dalam sedan
membelah kerumunan wajah dengan tangis sedu sedan
sementara beberapa gadis berjalan genit menuju salon untuk dandan
melirik sebentar pada kerumunan yang sudah kesakitan sekujur badan
mobil-mobil keluar dari rumah besar para komandan
menghentikan kerumunan yang mengusung badan terbungkus tikar pandan
ah … pengorbanan di negeri ini tidak pernah sepadan
ah sudahlah … begitulah situasi tiap hari di negeri ini berpadu padan
tak perlu kau memikirkannya sampai edan
yang penting segera antar itu istrimu ke bidan
dan mengistirahatkan badanmu supaya pikiran tak ikut zaman edan …

Mangga, 23 July 2010 22:44, mendapati kenyataan 'dan' dalam irama jaman yang .. sialan!

Senin, 28 Maret 2011

Terminal Pagi

Kabut dan mata-mata yang terjaga
sudut-sudut gelap dan bau asap berjelaga
roda-roda dan teriakan penjaja barang seribu tiga
botol-botol plastik dan air kusam pemuas dahaga
pikiranku dan dekapan kata-kata rindu sang raja Pujangga
hatiku dan semua rasa tentang fajar jingga
kamu dan kesibukan hati penuh curiga
aku dan kelelahan jiwa raga

Ponorogo, 13 Juni 2010, sebuah terminal dan "ga" yang sedikit aneh ..

Nun ..

nun di pucuk pinus ada riwayat
satu kisah yang menyayat, biru kemudian menghayat
nun di pucuk pinus sepasang mata melayat
pada rombongan yang hatinya tersayat-sayat

ini kisah tentang sejarah hati
yang pelan-pelan terlupakan kemudian mati
dan roh-roh terbang setinggi pinus, diam dan menanti
barangkali arah yang ditunjuk pinus adalah arah yang terberkati

Nun di pucuk pinus ada mata mencari hati
menduga dalamnya tanah ada cacing menggerogoti
Nun di pucuk pinus ada mata penuh daki
ketika cakrawala bergerak mundur kala pikir menggerakan kaki

Nun …

Bandung , 24 Februari 2011 mendapati at-ti-ki (ati iki(?)= hati ini) hmm ...

Minggu, 27 Maret 2011

Membuang Malam

sudah terlalu banyak aku kumpulkan malam
dari episode biasa saja sampai rindu dendam
koleksi malamku telah membuatku tenggelam
ke dalam situasi bernama demam

sudah terlalu banyak aku kumpulkan malam
juga warna hitam
jelaga kata-kata menjadi gumam dalam demam
pelangi hati hanya tampak biru lebam

sudah terlalu banyak aku kumpulkan malam
mencari cinta, semakin dalam menyelam
mencari cinta, semakin asyik menyulam
mencari cinta, semakin kuat mencengkeram

sudah terlalu banyak aku kumpulkan malam
besok aku jual malam yang mencekam
lusa aku berdagang malam yang menikam
bulan depan aku jual stock malam yang diam

sudah terlalu banyak aku kumpulkan malam
beberapa bahkan bukan malam, hanya bekas-bekas malam
atau malah malam bajakan yang seperti piringan diam namun kuat terekam
dan malam bajakan ini berisi rendaman cucian rindu yang gagal teredam

Bandung, 7 Juli 2010 .. Ketika 'am' hampir saja bernuansa seragam