Tampilkan postingan dengan label Hujan Juni Untuk Yuni. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hujan Juni Untuk Yuni. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Februari 2013

cinta, saja

madu
rindu
gebu

sesap
lenyap
lesap

lantas hariharimu hilang
dibuai angin khayal, terbang
yang tinggal cuma kenang
berkelebatan bagai hantu, bagai bayangbayang

cinta
rasa
puja

ikatlah dalam doa, diamdiam
lalu hantarkan, tuju sang maha cinta kala malam

tunggulah kasih-Nya
nan selembuat buaian bunda
senyaman dekap ayah, penuh cinta

Rabu, 14 November 2012

Kaki Rindu

awan mengandung
mendung

beriringan mega-mega itu menuju kelam
menghitam

lalu berat, semakin berat
jutaan kaki gerimis menggurat-gurat

tak sabar hendak luruh
tergesa menunggu jatuh

nun di bawah sana
bumi rekah, memecah serupa luka

menggeliat serupa ular
mengutus anak angin berpusar
menjemput hujan, merengkuh bumi yang tak lagi sabar

rindu ini terakhiri

Kamis, 31 Mei 2012

Rembulan Tertusuk Daun

rembulan tertusuk daun
seirama rimbun buluh mengalun
sang dara, menopang wajah, melamun

dara merindu jejaka
yang beriring sinar surya
dia kembara, entah kemana

sebuah janji
terpatri bersama embun pagi
nona jelita, yakinlah, aku akan kembali

sewindu telah berlalu
menderas bagai hujan, merinai rindu
jejaka tak kunjung bertamu

kemanakah engkau wahai pujaan
lupakah engkau semua kenangan
kala masa, berlarian kita di antara pematang, bergandengan
mengejar angan, melayang terbang, renda impian akan masa depan

rembulan semakin tertusuk daun
di antara ranting-ranting terayun
sang dara, menopang wajah, melamun
kekasih, senyap, serupa bayang, hilang tertelan halimun




Rabu, 09 Mei 2012

Usai

tautan hati yang kita tata
satu-satu runtuh

kasih yang kita jaga
tapak demi tapak, gegas menjauh

jejeran janji setia
bait demi bait luruh

baris demi baris percaya
serempak terjatuh

sesempurna itulah rasa yang pernah ada
sesempurna itu pula kisah memusnah, tiada

Senin, 26 September 2011

Salah, Jatuh Cinta

aku jatuh
di kerling matamu
yang coklat dan teduh
tanpa sadar, rona memerah, tersirat di pipi yang tersipu

kau ulurkan tangan
dadaku letup karena harapan
adakah kau sang pria tampan
yang berkendara turangga, mewujud nyata, bukan lagi impian

namun hujan luruh
gumpalan mendung menjadi partitur gemuruh
menghentak, menghela, mengancam menghujam, bagai tanya pada tertuduh
bukan, bukan dia kepada siapa dada letup itu melabuh

melajulah ke negeri impian
angkat sauhmu dan biarkan layar terkembang
lalu, kini, nanti, yang terharap dalam angan
kenang, simpan rapat-rapat dalam kenang

Kamis, 09 Juni 2011

Angan Tinggal Kenang


kukecup ragamu
dalam alunan lagu
tentang rindu
nanti, kini, dulu

aroma cinta
mengangkasa
lantas mega-mega
bentuk wajahmu disana

lantas hujan luruh
kupikir kau datang dan melabuh
oh tidak, ternyata kau pergi, menjauh
kukejar hingga jatuh
jua, kau tiada tersentuh

rinai kini henti
sapukan lengkung pelangi
nyata ku lihat kau berdiri
seorang bidadari, membawamu pergi
tentang rindu
nanti, kini, dulu

aroma cinta
mengangkasa
lantas mega-mega
bentuk wajahmu disana

lantas hujan luruh
kupikir kau datang dan melabuh
oh tidak, ternyata kau pergi, menjauh
kukejar hingga jatuh
jua, kau tiada tersentuh

rinai kini henti
sapukan lengkung pelangi
nyata ku lihat kau berdiri
seorang bidadari, membawamu pergi

Usai yang Masai

adzan maghrib baru saja gema
gaungnya dari stasiun tugu hingga titik nol, entah dimana

ada senyap yang singgah
terseret, terbakar gundah

aku tunggu
itu katamu

padamu hatiku berlabuh
hendaknya hatimu, dipelukku, buang sauh

malioboro semakin ramai
kendara yang lalang, acuhkan rinai
namun bayangmu tak jua sampai
sebuah janji, sirna dalam lalai
dan kisah kita, usai dalam masai


Hujan, Luruhkanlah

hujan curah
aku tengadah
tunggu berkah
jiwa lelah
asa, hampir punah

cucuran kesah jadi ngarai
mendelta, harap usai
namun raga, makin masai
umpatan, dzikiran, cerai berai

duhai gusti
jentiklah hati
lantas cuci bersih, pikir, diri
tiba-tiba hujan henti
sialan, hatiku belum lagi suci