bulir demi bulir iman berjatuhan
untai demi untai doa-doa dipanjatkan
serupa kutub magnet selatan, utara
dua rupa, tuju arah berbeda
pada akhirnya hanya untuk sebuah kata
jalan pulang, itu saja.
Tampilkan postingan dengan label menunggu pulang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label menunggu pulang. Tampilkan semua postingan
Rabu, 14 November 2012
Jumat, 01 Juni 2012
Sebuah Sapa
siapa namamu?
tanyanya padaku
wanita cantik bermata biru
rambut mayangnya tergerai hingga bahu
mengalun perlahan ditiup sang bayu
aku hanya tersenyum
melihatnya berjongkok di depanku, penuh kagum
hingga anting-antingnya bergoyang serupa pendulum
hampir setiap hari
di kala senja jelang pergi
dan rembulan menyelimuti mentari
dia datang padaku, menghampiri
dan selalu pertanyaan yang sama
juga dengan laku yang tak beda
berjongkok di depanku, menanyakan nama
sebelum seorang wanita paruh baya
datang menjemputnya
wanita cantik jelita
mereka bilang dia gila
sungguh aku tak percaya
hanya dialah seorang yang selalu menyapa
padaku yang tak bisa beranjak pergi dari rerimbun bunga
terbelenggu sebagai arca
tanyanya padaku
wanita cantik bermata biru
rambut mayangnya tergerai hingga bahu
mengalun perlahan ditiup sang bayu
aku hanya tersenyum
melihatnya berjongkok di depanku, penuh kagum
hingga anting-antingnya bergoyang serupa pendulum
hampir setiap hari
di kala senja jelang pergi
dan rembulan menyelimuti mentari
dia datang padaku, menghampiri
dan selalu pertanyaan yang sama
juga dengan laku yang tak beda
berjongkok di depanku, menanyakan nama
sebelum seorang wanita paruh baya
datang menjemputnya
wanita cantik jelita
mereka bilang dia gila
sungguh aku tak percaya
hanya dialah seorang yang selalu menyapa
padaku yang tak bisa beranjak pergi dari rerimbun bunga
terbelenggu sebagai arca
Kamis, 26 Januari 2012
Jeda, Hasrat
ini hanya tentang hasrat
keinginan yang menguat
berakar, menjalar, menggurat
namun terpendam di relungrelung nan jauh, berkarat
bisakah kita henti sejenak, jeda
dari impian dan gelimpangan asa
duduklah disampingku dalam diam
hanya jemari yang menyatu,saling genggam
terkadang waktu pun butuh henti
di satu titik, hanya jeda, bukan mati
lantas bisakah kita henti sejenak
menyesap air, menghirup udara, melepas sesak
bukan menyerah, hanya jeda, meski dalam benak
keinginan yang menguat
berakar, menjalar, menggurat
namun terpendam di relungrelung nan jauh, berkarat
bisakah kita henti sejenak, jeda
dari impian dan gelimpangan asa
duduklah disampingku dalam diam
hanya jemari yang menyatu,saling genggam
terkadang waktu pun butuh henti
di satu titik, hanya jeda, bukan mati
lantas bisakah kita henti sejenak
menyesap air, menghirup udara, melepas sesak
bukan menyerah, hanya jeda, meski dalam benak
Selasa, 24 Januari 2012
Sebuah Kerinduan
ini cerita kerinduan
tentang matahari yang terbakar perlahan
terbenam, menuju peraduan
saat kereta bergerak dalam ritme yang sama, tak terlalu kencang, jua perlahan
bersandar di bordes, ujung rangkaian
lantas ini pun tentang kisah yangsama
rindu akan sebuah senyum seorang wanita paruh baya
langkahnya terburu, menyambut di sebuah perempatan, bukan jalan raya
hanya sebuah gang di pinggir sungai yang kadang semu hijau, kadang coklat warnanya
dan kisah kerinduan yang menyisakan haru
pada kenang, penyesalan, keinginan dan waktu-laku yang terlewat di masa lalu
mencium tangannya yang keriput sekilas, bersanding berjalan, menyisir setapak, mengabu, berdebu
menghempaskan lelah dan mengkaitnya di pagar bambu
di depan rumah mungil yang di dalamnya selalu tersedia, hangat, tawa, pilu juga kelu
namun terkadang rindu, baiknya dibentang, jadikan untaian
entah di buku-buku jari di tiap kepalan tangan
atau bulir-bulir dari jali-jali hingga bola-bola plastik warna-warni berkilauan
33 jumlahnya atau ganjil di bulir ke sembilan puluh sembilan
Ya Rahim, Ya Rahim, Ya Rahim
lamat-lamat bibir ini, mengucap penuh takjim
Ya Rahman, Ya Rahman, Ya Rahman
berikan kedamaian dalam hati penuh kerinduan
pada senyuman, wanita paruh baya yang telah kau panggil pulang ke haribaan
tentang matahari yang terbakar perlahan
terbenam, menuju peraduan
saat kereta bergerak dalam ritme yang sama, tak terlalu kencang, jua perlahan
bersandar di bordes, ujung rangkaian
lantas ini pun tentang kisah yangsama
rindu akan sebuah senyum seorang wanita paruh baya
langkahnya terburu, menyambut di sebuah perempatan, bukan jalan raya
hanya sebuah gang di pinggir sungai yang kadang semu hijau, kadang coklat warnanya
dan kisah kerinduan yang menyisakan haru
pada kenang, penyesalan, keinginan dan waktu-laku yang terlewat di masa lalu
mencium tangannya yang keriput sekilas, bersanding berjalan, menyisir setapak, mengabu, berdebu
menghempaskan lelah dan mengkaitnya di pagar bambu
di depan rumah mungil yang di dalamnya selalu tersedia, hangat, tawa, pilu juga kelu
namun terkadang rindu, baiknya dibentang, jadikan untaian
entah di buku-buku jari di tiap kepalan tangan
atau bulir-bulir dari jali-jali hingga bola-bola plastik warna-warni berkilauan
33 jumlahnya atau ganjil di bulir ke sembilan puluh sembilan
Ya Rahim, Ya Rahim, Ya Rahim
lamat-lamat bibir ini, mengucap penuh takjim
Ya Rahman, Ya Rahman, Ya Rahman
berikan kedamaian dalam hati penuh kerinduan
pada senyuman, wanita paruh baya yang telah kau panggil pulang ke haribaan
Sirna dan Lalu
dalam lorong
sebuah gerbong
tatapan kosong
dan kerinduan-kerinduan berlompatan
angan akan sapa dan tanya memenuhi pikiran
lalu hati sibuk dengan persiapan jawaban
tentang pulang, tentang kenang, tentang halaman
yang bertahun ditinggalkan, dalam kembara, perjalanan, jua harapan
dan di tepi peron yang semakin sepi
langkah menjejak, tertatih dan sendiri
bola mata menatap nanar mereka yang saling cium tangan juga pipi, kanan kiri
mengantar, merangkul, menuju parkir kendara-kendara yang menunggu
aku berdiri di anak tangga terakhir stasiun, termangu
tak ada yang menunggu, dan harus ditunggu
jejakkan kaki dari sebuah becak di depan bangunan yang dulu kusebut rumah
selepas senja dan malam yang masih mentah
memutar anak kunci dalam remang menuju gulita, entah
tak ada suara, tak ada tanya, bahkan sapa pun punah
seiring pintu yang menjelaga, terbuka
hanya pekat, lengang, sunyi sebuah ruang, tanpa cahaya pelita
berkejaran dengan buncah segala rasa,aku terjaga, sinar temaram rembulan
muda, jatuh dari tingkap-tingkap jendela
keringat bercucuran, aku tersadar, kini, aku, terkungkung dalam beton-beton yang membelantara
kampungku, kecilku, sebagian dari aku, telah lama, jauh sirna
sebuah gerbong
tatapan kosong
dan kerinduan-kerinduan berlompatan
angan akan sapa dan tanya memenuhi pikiran
lalu hati sibuk dengan persiapan jawaban
tentang pulang, tentang kenang, tentang halaman
yang bertahun ditinggalkan, dalam kembara, perjalanan, jua harapan
dan di tepi peron yang semakin sepi
langkah menjejak, tertatih dan sendiri
bola mata menatap nanar mereka yang saling cium tangan juga pipi, kanan kiri
mengantar, merangkul, menuju parkir kendara-kendara yang menunggu
aku berdiri di anak tangga terakhir stasiun, termangu
tak ada yang menunggu, dan harus ditunggu
jejakkan kaki dari sebuah becak di depan bangunan yang dulu kusebut rumah
selepas senja dan malam yang masih mentah
memutar anak kunci dalam remang menuju gulita, entah
tak ada suara, tak ada tanya, bahkan sapa pun punah
seiring pintu yang menjelaga, terbuka
hanya pekat, lengang, sunyi sebuah ruang, tanpa cahaya pelita
berkejaran dengan buncah segala rasa,aku terjaga, sinar temaram rembulan
muda, jatuh dari tingkap-tingkap jendela
keringat bercucuran, aku tersadar, kini, aku, terkungkung dalam beton-beton yang membelantara
kampungku, kecilku, sebagian dari aku, telah lama, jauh sirna
Senin, 13 Juni 2011
Perjanjian Pulang
pulang dan kesendirian bukan paksaan,
bukan tentang apa-apa yang diinginkan,
juga bukan tentang penantian dan kepergian,
pulang dan kesendirian adalah perjanjian,
tiada yang bisa selamat dari pulang dan kesendirian,
dua hal yang merangkum segala keselamatan.
*Sukaluyu, 30 mei 2011
bukan tentang apa-apa yang diinginkan,
juga bukan tentang penantian dan kepergian,
pulang dan kesendirian adalah perjanjian,
tiada yang bisa selamat dari pulang dan kesendirian,
dua hal yang merangkum segala keselamatan.
*Sukaluyu, 30 mei 2011
Langganan:
Postingan (Atom)