rembulan tertusuk daun
seirama rimbun buluh mengalun
sang dara, menopang wajah, melamun
dara merindu jejaka
yang beriring sinar surya
dia kembara, entah kemana
sebuah janji
terpatri bersama embun pagi
nona jelita, yakinlah, aku akan kembali
sewindu telah berlalu
menderas bagai hujan, merinai rindu
jejaka tak kunjung bertamu
kemanakah engkau wahai pujaan
lupakah engkau semua kenangan
kala masa, berlarian kita di antara pematang, bergandengan
mengejar angan, melayang terbang, renda impian akan masa depan
rembulan semakin tertusuk daun
di antara ranting-ranting terayun
sang dara, menopang wajah, melamun
kekasih, senyap, serupa bayang, hilang tertelan halimun
Kamis, 31 Mei 2012
Rabu, 09 Mei 2012
Usai
tautan hati yang kita tata
satu-satu runtuh
kasih yang kita jaga
tapak demi tapak, gegas menjauh
jejeran janji setia
bait demi bait luruh
baris demi baris percaya
serempak terjatuh
sesempurna itulah rasa yang pernah ada
sesempurna itu pula kisah memusnah, tiada
satu-satu runtuh
kasih yang kita jaga
tapak demi tapak, gegas menjauh
jejeran janji setia
bait demi bait luruh
baris demi baris percaya
serempak terjatuh
sesempurna itulah rasa yang pernah ada
sesempurna itu pula kisah memusnah, tiada
Jumat, 27 April 2012
Ikatan
rindu
hiasi relung nan jauh di hatiku, akanmu
yang enggan melepas genggaman tangan, lalu doa-doa kau hantarkan, mengiring langkahku
cinta
mengingatkanku akan rona
kasihmu yang teduh, kala suka, juga lara
setia
senyum indah bak mega di ujung senja
dan binar dua mata, yakinku, kau selalu ada
dan semua itu
akan selalu membuatku melangkah pulang, pulang padamu
meski harus melintasi ruang & waktu
hanya padamu, belahan jiwaku
hiasi relung nan jauh di hatiku, akanmu
yang enggan melepas genggaman tangan, lalu doa-doa kau hantarkan, mengiring langkahku
cinta
mengingatkanku akan rona
kasihmu yang teduh, kala suka, juga lara
setia
senyum indah bak mega di ujung senja
dan binar dua mata, yakinku, kau selalu ada
dan semua itu
akan selalu membuatku melangkah pulang, pulang padamu
meski harus melintasi ruang & waktu
hanya padamu, belahan jiwaku
Rabu, 28 Maret 2012
Terbunuhnya Seorang Ibu
telah terbunuh
seorang ibu, yang simpuh
airmatanya serupa peluh
menderas hingga ke laut jauh
hutan perawannya diperkosa
udaranya disekap jilatan polusi berbisa
lautnya diobok-obok,isinya penuh luka
tanahnya memerah, berdarah, bernanah, ternoda
telah terbunuh
seorang ibu, yang simpuh
anakanaknya kini sibuk menggenggam bara
kasih sayang telah terlupa, binasa
Kamis, 26 Januari 2012
Jeda, Hasrat
ini hanya tentang hasrat
keinginan yang menguat
berakar, menjalar, menggurat
namun terpendam di relungrelung nan jauh, berkarat
bisakah kita henti sejenak, jeda
dari impian dan gelimpangan asa
duduklah disampingku dalam diam
hanya jemari yang menyatu,saling genggam
terkadang waktu pun butuh henti
di satu titik, hanya jeda, bukan mati
lantas bisakah kita henti sejenak
menyesap air, menghirup udara, melepas sesak
bukan menyerah, hanya jeda, meski dalam benak
keinginan yang menguat
berakar, menjalar, menggurat
namun terpendam di relungrelung nan jauh, berkarat
bisakah kita henti sejenak, jeda
dari impian dan gelimpangan asa
duduklah disampingku dalam diam
hanya jemari yang menyatu,saling genggam
terkadang waktu pun butuh henti
di satu titik, hanya jeda, bukan mati
lantas bisakah kita henti sejenak
menyesap air, menghirup udara, melepas sesak
bukan menyerah, hanya jeda, meski dalam benak
Selasa, 24 Januari 2012
Sebuah Kerinduan
ini cerita kerinduan
tentang matahari yang terbakar perlahan
terbenam, menuju peraduan
saat kereta bergerak dalam ritme yang sama, tak terlalu kencang, jua perlahan
bersandar di bordes, ujung rangkaian
lantas ini pun tentang kisah yangsama
rindu akan sebuah senyum seorang wanita paruh baya
langkahnya terburu, menyambut di sebuah perempatan, bukan jalan raya
hanya sebuah gang di pinggir sungai yang kadang semu hijau, kadang coklat warnanya
dan kisah kerinduan yang menyisakan haru
pada kenang, penyesalan, keinginan dan waktu-laku yang terlewat di masa lalu
mencium tangannya yang keriput sekilas, bersanding berjalan, menyisir setapak, mengabu, berdebu
menghempaskan lelah dan mengkaitnya di pagar bambu
di depan rumah mungil yang di dalamnya selalu tersedia, hangat, tawa, pilu juga kelu
namun terkadang rindu, baiknya dibentang, jadikan untaian
entah di buku-buku jari di tiap kepalan tangan
atau bulir-bulir dari jali-jali hingga bola-bola plastik warna-warni berkilauan
33 jumlahnya atau ganjil di bulir ke sembilan puluh sembilan
Ya Rahim, Ya Rahim, Ya Rahim
lamat-lamat bibir ini, mengucap penuh takjim
Ya Rahman, Ya Rahman, Ya Rahman
berikan kedamaian dalam hati penuh kerinduan
pada senyuman, wanita paruh baya yang telah kau panggil pulang ke haribaan
tentang matahari yang terbakar perlahan
terbenam, menuju peraduan
saat kereta bergerak dalam ritme yang sama, tak terlalu kencang, jua perlahan
bersandar di bordes, ujung rangkaian
lantas ini pun tentang kisah yangsama
rindu akan sebuah senyum seorang wanita paruh baya
langkahnya terburu, menyambut di sebuah perempatan, bukan jalan raya
hanya sebuah gang di pinggir sungai yang kadang semu hijau, kadang coklat warnanya
dan kisah kerinduan yang menyisakan haru
pada kenang, penyesalan, keinginan dan waktu-laku yang terlewat di masa lalu
mencium tangannya yang keriput sekilas, bersanding berjalan, menyisir setapak, mengabu, berdebu
menghempaskan lelah dan mengkaitnya di pagar bambu
di depan rumah mungil yang di dalamnya selalu tersedia, hangat, tawa, pilu juga kelu
namun terkadang rindu, baiknya dibentang, jadikan untaian
entah di buku-buku jari di tiap kepalan tangan
atau bulir-bulir dari jali-jali hingga bola-bola plastik warna-warni berkilauan
33 jumlahnya atau ganjil di bulir ke sembilan puluh sembilan
Ya Rahim, Ya Rahim, Ya Rahim
lamat-lamat bibir ini, mengucap penuh takjim
Ya Rahman, Ya Rahman, Ya Rahman
berikan kedamaian dalam hati penuh kerinduan
pada senyuman, wanita paruh baya yang telah kau panggil pulang ke haribaan
Langganan:
Postingan (Atom)