Kamis, 31 Mei 2012

Rembulan Tertusuk Daun

rembulan tertusuk daun
seirama rimbun buluh mengalun
sang dara, menopang wajah, melamun

dara merindu jejaka
yang beriring sinar surya
dia kembara, entah kemana

sebuah janji
terpatri bersama embun pagi
nona jelita, yakinlah, aku akan kembali

sewindu telah berlalu
menderas bagai hujan, merinai rindu
jejaka tak kunjung bertamu

kemanakah engkau wahai pujaan
lupakah engkau semua kenangan
kala masa, berlarian kita di antara pematang, bergandengan
mengejar angan, melayang terbang, renda impian akan masa depan

rembulan semakin tertusuk daun
di antara ranting-ranting terayun
sang dara, menopang wajah, melamun
kekasih, senyap, serupa bayang, hilang tertelan halimun




Rabu, 09 Mei 2012

Usai

tautan hati yang kita tata
satu-satu runtuh

kasih yang kita jaga
tapak demi tapak, gegas menjauh

jejeran janji setia
bait demi bait luruh

baris demi baris percaya
serempak terjatuh

sesempurna itulah rasa yang pernah ada
sesempurna itu pula kisah memusnah, tiada

Jumat, 27 April 2012

Ikatan

rindu
hiasi relung nan jauh di hatiku, akanmu
yang enggan melepas genggaman tangan, lalu doa-doa kau hantarkan, mengiring langkahku

cinta
mengingatkanku akan rona
kasihmu yang teduh, kala suka, juga lara

setia
senyum indah bak mega di ujung senja
dan binar dua mata, yakinku, kau selalu ada

dan semua itu
akan selalu membuatku melangkah pulang, pulang padamu
meski harus melintasi ruang & waktu
hanya padamu, belahan jiwaku

Rabu, 28 Maret 2012

Terbunuhnya Seorang Ibu


telah terbunuh
seorang ibu, yang simpuh
airmatanya serupa peluh
menderas hingga ke laut jauh

hutan perawannya diperkosa
udaranya disekap jilatan polusi berbisa
lautnya diobok-obok,isinya penuh luka
tanahnya memerah, berdarah, bernanah, ternoda

telah terbunuh
seorang ibu, yang simpuh
anakanaknya kini sibuk menggenggam bara
kasih sayang telah terlupa, binasa

Kamis, 26 Januari 2012

Jeda, Hasrat

ini hanya tentang hasrat
keinginan yang menguat
berakar, menjalar, menggurat
namun terpendam di relungrelung nan jauh, berkarat

bisakah kita henti sejenak, jeda
dari impian dan gelimpangan asa

duduklah disampingku dalam diam
hanya jemari yang menyatu,saling genggam

terkadang waktu pun butuh henti
di satu titik, hanya jeda, bukan mati

lantas bisakah kita henti sejenak
menyesap air, menghirup udara, melepas sesak
bukan menyerah, hanya jeda, meski dalam benak

Selasa, 24 Januari 2012

Sebuah Kerinduan

ini cerita kerinduan
tentang matahari yang terbakar perlahan
terbenam, menuju peraduan
saat kereta bergerak dalam ritme yang sama, tak terlalu kencang, jua perlahan
bersandar di bordes, ujung rangkaian

lantas ini pun tentang kisah yangsama
rindu akan sebuah senyum seorang wanita paruh baya
langkahnya terburu, menyambut di sebuah perempatan, bukan jalan raya
hanya sebuah gang di pinggir sungai yang kadang semu hijau, kadang coklat warnanya

dan kisah kerinduan yang menyisakan haru
pada kenang, penyesalan, keinginan dan waktu-laku yang terlewat di masa lalu
mencium tangannya yang keriput sekilas, bersanding berjalan, menyisir setapak, mengabu, berdebu
menghempaskan lelah dan mengkaitnya di pagar bambu
di depan rumah mungil yang di dalamnya selalu tersedia, hangat, tawa, pilu juga kelu

namun terkadang rindu, baiknya dibentang, jadikan untaian
entah di buku-buku jari di tiap kepalan tangan
atau bulir-bulir dari jali-jali hingga bola-bola plastik warna-warni berkilauan
33 jumlahnya atau ganjil di bulir ke sembilan puluh sembilan

Ya Rahim, Ya Rahim, Ya Rahim
lamat-lamat bibir ini, mengucap penuh takjim

Ya Rahman, Ya Rahman, Ya Rahman
berikan kedamaian dalam hati penuh kerinduan
pada senyuman, wanita paruh baya yang telah kau panggil pulang ke haribaan