rindu
hiasi relung nan jauh di hatiku, akanmu
yang enggan melepas genggaman tangan, lalu doa-doa kau hantarkan, mengiring langkahku
cinta
mengingatkanku akan rona
kasihmu yang teduh, kala suka, juga lara
setia
senyum indah bak mega di ujung senja
dan binar dua mata, yakinku, kau selalu ada
dan semua itu
akan selalu membuatku melangkah pulang, pulang padamu
meski harus melintasi ruang & waktu
hanya padamu, belahan jiwaku
Jumat, 27 April 2012
Rabu, 28 Maret 2012
Terbunuhnya Seorang Ibu
telah terbunuh
seorang ibu, yang simpuh
airmatanya serupa peluh
menderas hingga ke laut jauh
hutan perawannya diperkosa
udaranya disekap jilatan polusi berbisa
lautnya diobok-obok,isinya penuh luka
tanahnya memerah, berdarah, bernanah, ternoda
telah terbunuh
seorang ibu, yang simpuh
anakanaknya kini sibuk menggenggam bara
kasih sayang telah terlupa, binasa
Kamis, 26 Januari 2012
Jeda, Hasrat
ini hanya tentang hasrat
keinginan yang menguat
berakar, menjalar, menggurat
namun terpendam di relungrelung nan jauh, berkarat
bisakah kita henti sejenak, jeda
dari impian dan gelimpangan asa
duduklah disampingku dalam diam
hanya jemari yang menyatu,saling genggam
terkadang waktu pun butuh henti
di satu titik, hanya jeda, bukan mati
lantas bisakah kita henti sejenak
menyesap air, menghirup udara, melepas sesak
bukan menyerah, hanya jeda, meski dalam benak
keinginan yang menguat
berakar, menjalar, menggurat
namun terpendam di relungrelung nan jauh, berkarat
bisakah kita henti sejenak, jeda
dari impian dan gelimpangan asa
duduklah disampingku dalam diam
hanya jemari yang menyatu,saling genggam
terkadang waktu pun butuh henti
di satu titik, hanya jeda, bukan mati
lantas bisakah kita henti sejenak
menyesap air, menghirup udara, melepas sesak
bukan menyerah, hanya jeda, meski dalam benak
Selasa, 24 Januari 2012
Sebuah Kerinduan
ini cerita kerinduan
tentang matahari yang terbakar perlahan
terbenam, menuju peraduan
saat kereta bergerak dalam ritme yang sama, tak terlalu kencang, jua perlahan
bersandar di bordes, ujung rangkaian
lantas ini pun tentang kisah yangsama
rindu akan sebuah senyum seorang wanita paruh baya
langkahnya terburu, menyambut di sebuah perempatan, bukan jalan raya
hanya sebuah gang di pinggir sungai yang kadang semu hijau, kadang coklat warnanya
dan kisah kerinduan yang menyisakan haru
pada kenang, penyesalan, keinginan dan waktu-laku yang terlewat di masa lalu
mencium tangannya yang keriput sekilas, bersanding berjalan, menyisir setapak, mengabu, berdebu
menghempaskan lelah dan mengkaitnya di pagar bambu
di depan rumah mungil yang di dalamnya selalu tersedia, hangat, tawa, pilu juga kelu
namun terkadang rindu, baiknya dibentang, jadikan untaian
entah di buku-buku jari di tiap kepalan tangan
atau bulir-bulir dari jali-jali hingga bola-bola plastik warna-warni berkilauan
33 jumlahnya atau ganjil di bulir ke sembilan puluh sembilan
Ya Rahim, Ya Rahim, Ya Rahim
lamat-lamat bibir ini, mengucap penuh takjim
Ya Rahman, Ya Rahman, Ya Rahman
berikan kedamaian dalam hati penuh kerinduan
pada senyuman, wanita paruh baya yang telah kau panggil pulang ke haribaan
tentang matahari yang terbakar perlahan
terbenam, menuju peraduan
saat kereta bergerak dalam ritme yang sama, tak terlalu kencang, jua perlahan
bersandar di bordes, ujung rangkaian
lantas ini pun tentang kisah yangsama
rindu akan sebuah senyum seorang wanita paruh baya
langkahnya terburu, menyambut di sebuah perempatan, bukan jalan raya
hanya sebuah gang di pinggir sungai yang kadang semu hijau, kadang coklat warnanya
dan kisah kerinduan yang menyisakan haru
pada kenang, penyesalan, keinginan dan waktu-laku yang terlewat di masa lalu
mencium tangannya yang keriput sekilas, bersanding berjalan, menyisir setapak, mengabu, berdebu
menghempaskan lelah dan mengkaitnya di pagar bambu
di depan rumah mungil yang di dalamnya selalu tersedia, hangat, tawa, pilu juga kelu
namun terkadang rindu, baiknya dibentang, jadikan untaian
entah di buku-buku jari di tiap kepalan tangan
atau bulir-bulir dari jali-jali hingga bola-bola plastik warna-warni berkilauan
33 jumlahnya atau ganjil di bulir ke sembilan puluh sembilan
Ya Rahim, Ya Rahim, Ya Rahim
lamat-lamat bibir ini, mengucap penuh takjim
Ya Rahman, Ya Rahman, Ya Rahman
berikan kedamaian dalam hati penuh kerinduan
pada senyuman, wanita paruh baya yang telah kau panggil pulang ke haribaan
Sirna dan Lalu
dalam lorong
sebuah gerbong
tatapan kosong
dan kerinduan-kerinduan berlompatan
angan akan sapa dan tanya memenuhi pikiran
lalu hati sibuk dengan persiapan jawaban
tentang pulang, tentang kenang, tentang halaman
yang bertahun ditinggalkan, dalam kembara, perjalanan, jua harapan
dan di tepi peron yang semakin sepi
langkah menjejak, tertatih dan sendiri
bola mata menatap nanar mereka yang saling cium tangan juga pipi, kanan kiri
mengantar, merangkul, menuju parkir kendara-kendara yang menunggu
aku berdiri di anak tangga terakhir stasiun, termangu
tak ada yang menunggu, dan harus ditunggu
jejakkan kaki dari sebuah becak di depan bangunan yang dulu kusebut rumah
selepas senja dan malam yang masih mentah
memutar anak kunci dalam remang menuju gulita, entah
tak ada suara, tak ada tanya, bahkan sapa pun punah
seiring pintu yang menjelaga, terbuka
hanya pekat, lengang, sunyi sebuah ruang, tanpa cahaya pelita
berkejaran dengan buncah segala rasa,aku terjaga, sinar temaram rembulan
muda, jatuh dari tingkap-tingkap jendela
keringat bercucuran, aku tersadar, kini, aku, terkungkung dalam beton-beton yang membelantara
kampungku, kecilku, sebagian dari aku, telah lama, jauh sirna
sebuah gerbong
tatapan kosong
dan kerinduan-kerinduan berlompatan
angan akan sapa dan tanya memenuhi pikiran
lalu hati sibuk dengan persiapan jawaban
tentang pulang, tentang kenang, tentang halaman
yang bertahun ditinggalkan, dalam kembara, perjalanan, jua harapan
dan di tepi peron yang semakin sepi
langkah menjejak, tertatih dan sendiri
bola mata menatap nanar mereka yang saling cium tangan juga pipi, kanan kiri
mengantar, merangkul, menuju parkir kendara-kendara yang menunggu
aku berdiri di anak tangga terakhir stasiun, termangu
tak ada yang menunggu, dan harus ditunggu
jejakkan kaki dari sebuah becak di depan bangunan yang dulu kusebut rumah
selepas senja dan malam yang masih mentah
memutar anak kunci dalam remang menuju gulita, entah
tak ada suara, tak ada tanya, bahkan sapa pun punah
seiring pintu yang menjelaga, terbuka
hanya pekat, lengang, sunyi sebuah ruang, tanpa cahaya pelita
berkejaran dengan buncah segala rasa,aku terjaga, sinar temaram rembulan
muda, jatuh dari tingkap-tingkap jendela
keringat bercucuran, aku tersadar, kini, aku, terkungkung dalam beton-beton yang membelantara
kampungku, kecilku, sebagian dari aku, telah lama, jauh sirna
Jumat, 07 Oktober 2011
Sandal Jepit, Terhimpit
sebuah sandal jepit
hanya sebelah dan terhimpit
di anak tangga sebuah masjid
tak lagi berwarna bahkan karetnya pun mulai irit
dulu dia berwarna biru
menggantung rapi di dalam warung yang dijaga seorang ibu
lalu kakek tua menebusnya dengan uang lima ribu
tapi itu dulu, sekian minggu bahkan mungkin bulan yang telah lalu
berhari jepit itu menemani
lelaki tua datang dan pergi
lima kali dalam sehari
dari rumahnya untuk menuju ke Masjid ini
lantas di hari yang tiba-tiba hujan
tanpa mendung sebagai pemberitahuan
kakek tua itu hendak menyebrang jalan
berlari, dia enggan hujan membuat gigil di badan
berbarengan sebuah sedan
melesat laju melanggarnya hingga nyawa terlepas, bahkan sang kakek lupa ucapkan selamat jalan
pada nyawa yang terus melayang naik diantar malaikat menghadap Tuhan
dan sandal jepit itu terlepas
entah mengapa yang satu begitu jauh terhempas
hingga di ujung anak tangga pas dekat teras
terhimpit, terlupa, menunggu sang empunya dan kembali bebas
walau sandal jepit, dia pernah punya bakti tanpa harap dapat balas
hanya sebelah dan terhimpit
di anak tangga sebuah masjid
tak lagi berwarna bahkan karetnya pun mulai irit
dulu dia berwarna biru
menggantung rapi di dalam warung yang dijaga seorang ibu
lalu kakek tua menebusnya dengan uang lima ribu
tapi itu dulu, sekian minggu bahkan mungkin bulan yang telah lalu
berhari jepit itu menemani
lelaki tua datang dan pergi
lima kali dalam sehari
dari rumahnya untuk menuju ke Masjid ini
lantas di hari yang tiba-tiba hujan
tanpa mendung sebagai pemberitahuan
kakek tua itu hendak menyebrang jalan
berlari, dia enggan hujan membuat gigil di badan
berbarengan sebuah sedan
melesat laju melanggarnya hingga nyawa terlepas, bahkan sang kakek lupa ucapkan selamat jalan
pada nyawa yang terus melayang naik diantar malaikat menghadap Tuhan
dan sandal jepit itu terlepas
entah mengapa yang satu begitu jauh terhempas
hingga di ujung anak tangga pas dekat teras
terhimpit, terlupa, menunggu sang empunya dan kembali bebas
walau sandal jepit, dia pernah punya bakti tanpa harap dapat balas
Langganan:
Postingan (Atom)